GORAJUARA - Menjelang pernikahan, calon pengantin bisa mengalami ‘Marriage Blue’.
Dikutip dari Chosun Media, ‘Marriage Blue’ berasal dari sebuah novel laris karya Kei Yuikawa, seorang penulis Jepang, yang berarti kecemasan psikologis yang dialami pria dan wanita menjelang pernikahan mereka.
‘Marriage Blue’ juga bisa disebut juga dengan depresi pra-pernikahan.
Baca Juga: Najwa Shihab dan Keluarga Ungkap Gila Nonton Sepak Bola, Sampai-sampai Beli TV Baru 4 Tahun Sekali
Meskipun bukan penyakit, namun gejalanya tidak dapat diabaikan.
Indeks stres pernikahan diketahui bernilai 50 poin, mengingat stres mental yang paling parah adalah 100 poin.
Ini lebih tinggi daripada stres (47 poin) yang disebabkan oleh kehilangan pekerjaan.
Baca Juga: Kompetensi Spiritual Diusulkan Dr. Cepi Riyana, M.Pd. sebagai Kompetensi Guru
Pada saat-saat ketika siklus hidup berubah secara dramatis, seperti pernikahan, peran individu sering berubah, yang sering menyebabkan kecemasan, depresi, dan stres.
‘Blue Marriage’ mungkin membuat sulit untuk mengekspresikan perasaan secara langsung, atau untuk melaksanakan tanggung jawab yang baru diberikan.
Khususnya bagi mereka yang pernah mengalami depresi di masa lalu, perlu diwaspadai karena risiko kambuh saat menghadapi situasi stres.
Baca Juga: Seokjin BTS Bocorkan Hal Ini Saat Lakukan Konser di Busan!
Jika tingkat stres dan depresi sangat parah, disarankan untuk memeriksa apakah itu depresi sederhana atau depresi yang membutuhkan perawatan melalui tes.
Jadi, bagaimana cara mengatasi ‘Marriage Blue’ ?
Kepercayaan pasangan satu sama lain adalah yang terpenting. Dukungan keluarga untuk pasangan calon juga berperan besar.