news

Sejarah Pondok Pesantren Al-Zaytun, Jadi Viral Karena Diduga Jadi Kerajaan Panji Gumilang

Senin, 3 Juli 2023 | 14:54 WIB
Sejarah Pondok Pesantren Al-Zaytun, Jadi Viral Karena Diduga Jadi Kerajaan Panji Gumilang (Gorajuara/Facebook)

GORAJUARA - Sejarah Pondok Pesantren Al-Zaytun, jadi viral karena diduga jadi kerajaan Panji Gumilang.

Nama Pondok Pesantren (Ponpes) Al Zaytun kini tengah hangat menjadi perbincangan masyarakat, karena diduga telah menyebarkan ajaran yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Adapun salah satu praktik yang membuat nama Al Zaytun mencuat hingga menimbulkan kontroversi adalah ketika pelaksanaan salat Idul Fitri 1444 Hijriah.

Baca Juga: Dipanggil Bareskrim Mabes Polri, Ini Profil dan Biodata Panji Gumilang Pimpinan Pondok Al-Zaytun

Saat itu, saf jamaah laki-laki dan perempuan sejajar bahkan ada seorang jemaah perempuan yang berdiiri sendiri di depan para jemaah laki-laki.

Selain itu, salah satu yang menjadi viral di media sosial adalah nyanyian lagu Yahudi yang dikumandangkan oleh para santri.

Baca Juga: Diduga Aniaya Seorang Pria, Aktor kawakan Pierre Gruno Dilaporkan ke Polisi

Sejarah Pendirian Ponpes Al Zaytun

Dilansir dari laman resmi, pondok pesantren Al-Zaytun berdiri pada 1 Juni 1993 bertepatan dengan 10 Dzu al-Hijjah 1413 H dirikan oleh Yayasan Pesantren Indonesia (YPI).

Dilansir dari laman resmi Al Zaytun, ponpes ini pertama kali didirikan oleh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang pada 1 Juni 1993 atau bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1413 Hijriah.

Pembangunan Al-Zaytun dimulai pada 13 Agustus 1996, pondok ini diresmikan oleh B.J. Habibie pada 27 Agustus 1999.

Baca Juga: Akhirnya, Panji Gumilang Datang ke Bareskrim Dengan Bawa Pengawal, Wartawan Dilarang Meliput

Adapun pembangunan Al Zaytun dimulai pada 13 Agustus 1996 di atas tanah seluas 1.200 hektare yang berada di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Pada 1 Juli 1999, pembukaan awal pembelajaran di ponpes ini mulai dilaksanakan. Sedangkan peresmian secara umum baru dilakukan pada 27 Agustus 1999 oleh Presiden Indonesia ketiga, B.J Habibie.

Halaman:

Tags

Terkini