GORAJUARA - KDM Gubernur Jawa Barat mengatakan kegagalan pemimpin ketika tidak berhasil mensejahterakan rakyat. Keislaman seseorang bukan dinilai dari ibadah umroh tiap tahun.
Pesan disampaikan pada pidato sebelum shalat Idul Fitri di Gasibu, 31 Maret 2025. Pidato ditayangngkan di dalam youtube Kang Dedi Mulyadi Channel.
Menurut KDM tugas pengelolaan anggaran merupakan tugas Islam, tugas mulia, dan tugas kemanusiaan. Kegagalan pemimpin dilihat ketika masih ada pengemis perempatan jalan.
Anak-anak yatim tidak bisa sekolah, orang miskin rumahnya roboh, korban banjir tidak tertangani dengan baik, orang bunuh diri karena terikat bank emok. Itulah kegagalan pemimpin, kata KDM.
Mengajak penyelenggaran negara seluruh Provinsi Jawa Barat. Bupati, wali kota, camat, lurah dan kepala desa, untuk melakukan perubahan paradigma beragama.
Keislaman bukan dilihat dari gamis, sajadah yang digelar, dan peci yang dipakai. Keislaman harus dilihat dari senyum rakyat bisa makan bergizi, senyum rakyat sekolah tidak ngatri,
senyum rakyat ketika waktu sakit negara hadir melayani, senyum rakyat ketika para medis melayani tidak membedakan kaya dan miskin.
Kehinaan bagi pemimpin ketika mayat ditahan karena belum bayar rumah sakit, bayi tidak bisa pulang karena belum bayar, sementara negara abai karena mementingkan pribadi dan golongan.
Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd, Sekjen DPP AKSI sangat kagum dengan pemahaman keberagamaan KDM.
Baca Juga: Selesaikan Kemiskinan Jawa Barat... KDM Gubernur Jawa Barat Keluarkan Ide Pendidikan...
Pemahaman keagamaan KDM dari perspektif pemimpin sangat membumi dan mengandung harapan baik pada rakyat. KDM adalah pemimpin islami yang sangat inklusif.
KDM berusaha menghadirkan contoh kepemimpinan Nabi Muhammad dan para sahabat Nabi diimplementasikan kembali dalam kehidupan masyarakat.