"Diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah, komunitas, akademisi dan tentunya para pelaku industri," ungkap Erwin.
"Maka diharapkan CIITCOM CONNEXT 2025 menjadi katalisator lahirnya solusi-solusi inovatif dan kolaborasi lintas sektor yang konkret," kata Erwin.
Baca Juga: WOW! Rivelino Wardhana Siap Bayar Segini Jika Terbukti sebagai Ayah Kandung dari Anak Lisa Mariana
Kewaspadaan dan antisipasi
Sementara itu, dunia usaha mendukung penuh adopsi AI yang lebih luas meskipun tetap memperingatkan sejumlah potensi yang tidak baik, misalnya potensi dijualnya produk-produk AI Indonesia ke luar negeri.
Penjualan produk AI ke luar negeri berpotensi membuat kita dipetakan oleh pihak luar karena AI dikembangkan berdasarkan big data yang ada.
Hal tersebut diungkap oleh Soegiharto, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (APTIKNAS).
"Kita contohkan dalam kasus misalnya QRIS itu memuat berbagai macam data transaksi,dan pola konsumsi satu negara.
"Saat ini ada intensi menggantikan QRIS dengan mekanisme dari luar negeri yang menyebabkan data bisa bocor ke pihak luar," kata Soegiharto.
"Ke depan apabila pengusaha kita mengembangkan AI untuk mendukung pendidikan, pertanian dan perikanan, jangan sampai kemudian dijual ke pihak luar hanya karena jumlah uang.
"Hal ini karena mereka akan menguasai data-data masyarakat Indonesia dan dapat memetakan kita," ujar Soegiharto.
Sementara itu, Sabrang selaku filsuf dan praktisi AI sekaligus pimpinan symbolic.id menyatakan bahwa perlu dipahami bahwa sejauh mana AI dapat bekerja dan apa resiko yang dapat ditimbulkan bagi masing-masing orang.
Menurut Sabrang, AI diciptakan untuk meningkatkan kapabilitas manusia, di mana dalam hal ini mengefisiensikan waktu dan energi.