GORAJUARA - Kasus bunuh diri di kota Bandung adalah fenomena sosial di era informasi. Apa upaya dunia pendidikan, dan pengajaran apa yang harus dikedepankan.
Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd. Sekjen DPP AKSI, memberikan penjelasan pada tim Gorajuara. Banyak faktor penyebab orang mengakhiri hidup dengan bunuh diri.
Kepala sekolah, guru-guru, selalu menyimak peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakat, dan merefleksi diri apa yang harus dilakukan oleh dunia pendidikan.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Dukung Mimpi Anak Pengemudi Ojol untuk Kuliah di AS dan Jadi Data Science Analyst
Meningkatnya kasus bunuh diri, para pelaku pendidikan dalam sebuah diskusi sepakat untuk meningkatkan kompetensi lulusan dalam keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan YME.
Pengajaran keagamaan perlu diperdalam dari sudut pembelajaran mendalam. Pembelajaran keagamaan jangan berhenti pada ritual tapi harus mendalam.
Pembelajaran kegamaan bukan hanya diajarkan oleh mata pelajaran agama, tetapi diintegrasikan pada seluruh mata pelajaran dengan tujuan meningkatkan keimanan dan ketakwaan.
Baca Juga: Menjaga Marwah Ruang Kelas...Tidak Boleh Sembarangan Orang Masuk Kelas...
Metode pengajaran agama harus melatih murid-murid berpikir kritis untuk menemukan pola-pola pikir positif yang diajarkan dalam ajaran agama.
Dari sudut pandang pengajaran agama, kasus bunuh diri terjadi karena lemahnya keimanan dan ketakwaan pada Tuhan. Jika keyakinan pada Tuhan kuat, tidak mungkin bunuh diri.
Bunuh diri adalah perbuatan haram, karena di dalam Al Quran kasus bunuh diri disamakan dengan prilaku orang-orang yang tidak beriman pada Tuhan.
Baca Juga: Indonesia Membutuhkan Generasi Kritis... Mampu Bernarasi di Publik Untuk Kepentingan Bangsa...
"Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". (Yusuf, 12:87). Sikap bunuh diri diambil dari rasa putus asa dan hal ini dilarang.
Jika pengajaran agama mengajarkan tentang pola pikir-pola pikir positif yang ada dalam Al Quran, sebenarnya pelajaran agama akan jadi benteng kekuatan mental seseorang.