Mengenal Sosok Imam Bukhari Sang Penyusun Kitab Shahih Selama 16 Tahun

photo author
Arya Noor Amarsyah, Gora Juara
- Senin, 4 April 2022 | 21:56 WIB
Ilustrasi Imam Bukhari Sang Penyusun Kitab Shahih Selama 16 Tahun (Foto: Gorajuara.com/dok. net)
Ilustrasi Imam Bukhari Sang Penyusun Kitab Shahih Selama 16 Tahun (Foto: Gorajuara.com/dok. net)

GORAJUARA - Pedoman hidup kaum muslimin adalah Alquran dan hadits. Alquran adalah firman Allah SWT yang disampaikan kepada Rasulullah SAW melalui Malaikat Jibril.

Sedangkan hadits adalah ucapan, perbuatan dan diamnya Rasulullah terhadap suatu perkara. Apa yang diucapkan dan dilakukan Rasulullah SAW merupakan hadits.

Terkait hadits, mungkin teman-teman tidak asing lagi dengan perawi/periwayat hadits yang bernama Imam Bukhari.

Baca Juga: Inilah Kondisi Pebulutangkis Indonesia Jelang Korea Open 2022, Coach Nova: Mereka Siap Tempur

Dikutip dari Buku 'Lilin Yang Tak Pernah Padam', karya Abu Malik Muhammad bn Hamid bin Abdul Wahab, hadits-hadits yang diriwayatkan imam Bukhari pada umumnya shahih.

Dapat dijadikan sandaran, landasan sebuah hukum, sumber keterangan tentang suatu ibadah. Intinya dapat dijadikan rujukan yang dapat dipercaya.

Imam Bukhari yang wafat pada tahun 356 H menyusun kitab shahihnya selama 16 tahun.

Baca Juga: Keutamaan Mengerjakan Sholat Dhuha Saat Bulan Ramadhan, Lengkap Beserta Niat dan Doanya

Beliau pernah mengatakan hal ini, “Aku menyusun kitab shahih ini selama 16 tahun. Hadits-hadits yang aku tulis di dalamnya merupakan saringan dari 600 ribu hadits. Aku menjadikan kitab ini sebagai hujjah antara aku dan Allah SWT.”

Imam Bukhari juga pernah berkata, “Aku tidak pernah menulis satu hadits pun dalam kitab ini, melainkan aku berwudhu terlebih dahulu dan shalat dua rakaat.”

Melihat penuturan imam Bukhari yang meyakinkan ini, kita bisa menilai sendiri. Menuliskan hadits shahih selama 16 tahun menunjukkan kesungguhan dan keseriusan imam Bukhari.

Baca Juga: Macam Macam Olahan Kurma Anti Bosan, Inilah Takjil Kekinian

Diriwayatkan pula dalam pengembaraannya mencari hadits, Imam Bukhari telah melakukan perjalanan ke berbagai daerah, seperti Nisabur, Baghdad, Bashrah, Kufah, Mekah, Madinah, Syam dan Mesir.

Dia juga pernah berkata, “Saya menulis hadits dari 1000 orang alim atau lebih.”

Imam Bukhari telah memilih hadits-hadits yang layak dijadikan sandaran, pedoman kaum muslimin. Telah menyaring mana saja hadits-hadits yang benar-benar berasal dari Rasulullah SAW dan mana yang tidak.

Baca Juga: Gareth Bale dan Mariano Diaz Terlambat ke Bangku Cadangan Setelah Jeda Pertandingan

Menuliskan hadits berarti menuliskan perbuatan dan ucapan yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Ini bukan hal yang sembarang, selain akan dijadikan sebagai pedoman bagi kaum muslimin, menuliskan hadits sama saja mengatas namakan Rasulullah.

Menuliskan bahwa hadits ini shahih berarti menuliskan bahwa Rasulullah saw pernah mengatakan atau melakukan perbuatan ini.

Rasa hormatnya imam Bukhari kepada Rasulullah saw ditunjukkan dengan berwudhu terlebih dahulu. Selain berwudhu’, juga menunaikan sholat dua rakaat sebagai cara permohonan petunjuk pada Allah SWT.

Baca Juga: PBSI Targetkan Tiga Emas di SEA Games 2021, Inilah Daftar Pebulutangkis Indonesia yang Akan Berlaga di Vietnam

Imam Bukhari juga pernah berkata, “Selain itu tidak ada satu hadits pun yang ada padaku melainkan kusebutkan isnadnya.”

Dengan menyebut isnad, berarti imam Bukhari merunut dari siapa dia menerima hadits itu, yang memberitahu hadits itu menerima hadits dari siapa hingga sampai pada Rasulullah SAW.

Imam Bukhari siap mempertanggung jawabkan pernulisan hadits shahih ini dihadapan Allah SWT kelak.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Rusyandi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kapan Nisfu Syaban 2025? Cek Tanggal di Sini!

Rabu, 12 Februari 2025 | 14:00 WIB